PPATK Lebih Menyebut Para Penjudi Online Sering Terjerat Kasus Pinjol Dan Penipuan

Sentra Pelaporan dan Analitik Transaksi Keuangan (PPATK) menemukan adanya pola dari para pemain judi online (judol) yang tak jarang terjerat kasus pinjaman online (pinjol) ilegal sampai penipuan.

“Kami menemukan pelanggaran-pelanggaran aturan ikutan dari judol ini, seperti terjadinya pinjol ilegal, penipuan, ponzi scheme https://www.mixhell.info/ (skema ponzi) dan lain-lain,” kata Kepala PPATK Ivan Yustiavandana saat dikonfirmasi, Sabtu (15/6/2024).

Ivan menyebut terjeratnya para pemain judi online itu sebab tak jarang terdesak keperluan uang demi memainkan permainan haram hal yang demikian. Sehingga, segala metode digunakan untuk menerima uang.

“Iya, sebab untuk judol mereka butuh uang, dan itu mereka dapatkan dengan metode melawan aturan juga. Karena tidak adanya sumber penghasilan yang memadai untuk judol,” ungkap Ivan.

Berdasarkan data PPATK, lebih dari 80 persen masyarakat yang bermain judi online adalah mereka yang memiliki skor transaksi relatif kecil, sekira Rp100 ribu.

Dari data itu diperoleh sempurna agregat transaksi kalangan masyarakat umum berada pada kalangan menengah ke bawah. Umpamanya golongan ibu rumah tangga, pelajar, pegawai golongan rendah, pekerja lepas.

Sedangkan demikian itu, kerugian imbas judi online menempuh skor fantastis, lebih dari Rp600 triliun sampai dengan kuartal 1 tahun 2024. Angka itu diperoleh berdasarkan kalkulasi hasil analitik PPATK dari tahun 2023 Rp500 triliun. Kemudian pada kuartal 1 (Januari – Maret) ditemukan adanya transaksi Rp100 triliun.

“Oleh karenanya arahan Bapak Presiden terhadap masyarakat kemarin, beliau sampaikan bahwa hindari judol. Uang sebaiknya dikelola untuk hal yang produktif, ditabung, buat pendidikan dan lain-lain. Seyogyanya masyarakat memang mengelola dananya dengan menghindari judol,” katanya.

Ngeri, Transaksi Judi Online Lebih Tinggi Diperbandingkan Korupsi

Koordinator Klasifikasi Humas Sentra Pelaporan dan Analitik Transaksi Keuangan (PPAT), Natsir Kongah, menceritakan ada penemuan perputaran uang judi online menempuh angka Rp600 triliun pada kuartal pertama tahun 2024.

“Di semester satu ini disampaian pak kepala Pak Ivan menembus angka Rp600 triliun lebih pada kuartal pertama pada 2024,” ujar Natsir dalam diskusi daring, Sabtu (15/6/2024).

Berdasarkan Natsir, angka hal yang demikian terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2021 terdeteksi perputaran judi online cuma Rp57 triliun. Lalu meningkat menjadi Rp81 triliun pada 2022, dan melonjak pada tahun 2023 menjadi Rp327 triliun.

“Dari angka-angka akumulasi perputaran judi online ini dari waktu ke waktu terus meningkat,” kata Natsir.

Natsir menyuarakan bahwa penemuan berkaitan judi online adalah yang terbesar dibandingkan keseluruhan laporan transaksi keuangan yang diterima PPATK, termasuk korupsi.

“Sekiranya (judi online) sampai 32,1 persen. contohnya penipuan di bawahnya ada 25,7 persen. Lalu kemudian tindak pidana lain 12,3 persen, korupsi malah 7 persen,” pungkas Natsir.

×

Hello!

انقر فوق أحد ممثلينا أدناه للدردشة على WhatsApp أو إرسال بريد إلكتروني إلينا sponsorad44@gmail.com

×